Sang Pelukis Langit

Namanya Hendriyadi, kelahiran 12 April 1989. Ia berasal dari Bulukumba, kota kecil berjarak 150 km dari Makasar. Dari tempat tinggalnya, butuh empat jam untuk mencapai ibukota provinsi Sulawesi Selatan ini. Hendri anak pertama dari enam bersaudara. Kehidupan keluarganya terbilang prihatin. Bayangkan, delapan anggota keluarga mesti bertahan hidup dengan uang Rp 500 ribu per bulan. Ayahnya, Bahtiar, tak tamat SD. Ibunya, Supriati, hanya tamat SMP. (”Mungkin pendidikan yang rendah ini membuat keluarga kami terperangkap kemiskinan,” katanya menganalisis). Pasangan ini sama-sama lahir tahun 1969. Bahtiar kini bekerja di tempat penggergajian kayu. Sementara pekerjaan Supriati lebih tak menentu. Ia membantu tetangganya di sawah pada musim tanam atau panen. Dalam keadaan hamil tua ia tetap bekerja, sampai nyaris melahirkan adik bungsu Hendri di sawah. Adiknya ini kini berusia dua bulan. “Hanya sekali seminggu keluarga kami makan ikan. Adik saya sering mengeluh, kenapa kok lauknya daun singkong melulu,” tuturnya padaku. Sebagai anak dari keluarga tak berada, untungnya Hendri tak minder.

Semasa SD, ia berjualan keripik dan kue untuk membantu keluarga. Pulang sekolah, saat teman seusianya bebas bermain, ia justru membantu tetangganya menjajakan es. Tiap mengumpulkan seribu rupiah, ia mendapat upah seratus perak. Saat tamat SMP, Hendri menghadapi pertentangan berat. Ibunya bilang, ia tak sanggup membiayai kelanjutan sekolah Hendri. Diam-diam, Hendri nekad mengambil formulir pendaftaran di SMA, dan berhasil masuk SMA Negeri 1 Bulukumba. Juara umum beberapa kali disabetnya, ditambah mewakili sekolahnya di berbagai perlombaan tingkat kabupaten. Lulus SMA membenturkannya pada masalah baru, yakni tentang kelanjutan pendidikan. Ia memang pantas resah. Nilai rata-rata ujian sekolahnya yang mencapai angka 9,49 tentu lebih dari cukup untuk sekadar mendapat sebuah bangku di universitas. Hendri yang mengambil jurusan IPA ingin jadi peneliti, namun keuangan keluarga tak mampu menyokongnya.

Saat ia sedang berjalan di depan perpustakaan, kebetulan ia mendapati sebuah koran usang yang mencantumkan iklan beasiswa dari sebuah bank swasta. Hatinya pun melonjak oleh harapan. Satu hal yang merisaukannya adalah, ia mesti mengunduh formulir aplikasi di internet. Padahal, hingga saat itu Bulukumba tak punya sambungan internet. Ia pun meminjam uang untuk pergi ke warung internet di Makassar. Formulir sudah terkirim, namun belum ada kepastian nasib. Hendri tetap harus ikut SPMB. Lagi-lagi ia mesti pinjam uang dari temannya yang tinggal di Jogja untuk ikut saringan masuk universitas negeri itu. “Sampai sekarang, utangnya belum saya bayar lho,” cetusnya. Kami bertemu dua kali di Jakarta, dua-duanya di sebuah hotel berbintang.

Ia tak tampak minder atau mengharap belas kasihan. Hadirin yang berdiri di depannya terdiri dari Deputi Gubernur Bank Indonesia, Duta Besar Malaysia, Presiden Direktur Excelcomindo, Presiden Direktur KSEI, dan jajaran direksi dua buah bank swasta terkenal. Ia menyisipkan kata-kata berbahasa Inggris dalam testimoni singkatnya. Hendri sekarang sudah diterima di jurusan Manajemen, Universitas Trisakti, dan bakal segera mulai kuliah pada akhir bulan ini. Sebenarnya ini pilihan keduanya sesudah jurusan Kimia. “Karena latar belakang ilmu saya IPA, saya harus mengulang belajar dari awal,” paparnya. Tapi, setelah bertandang ke kantor cabang suatu bank, ia mulai berubah pikiran dan ingin jadi ahli akuntan. “Bidang keuangan sepertinya lebih santai, tapi banyak kontribusi yang diberikan pada masyarakat,” simpulnya. Aku menyalaminya seusai acara. Sepertinya saat ini ia sudah bebas merajut mimpi tentang masa depan. Betapa tidak, beasiswanya mencakup kebutuhan yang cukup lengkap. Ada uang kos, uang kuliah, uang administrasi, uang makan, laptop dan biaya internet, biaya pengobatan jika sakit, dan uang makan tiga kali sehari. Nanti bila ia lulus, ia langsung diterima di perusahaan afiliasi bank tersebut. “Saya ingin merubah kondisi keluarga,” tekadnya mantap.

Pembicaraan kami bersamaan simpang-siurnya wacana mengenai kewajiban corporate social responsibility (CSR) dalam beleid perseroan terbatas yang paling anyar. Memandang Hendri, dan 42 anak cerdas lain yang mendapat beasiswa yang serupa, serasa menemukan perhentian yang sejuk. Pada hal yang digelari sebagai CSR inilah mereka bergantung. CSR bukan semata-mata kegiatan bagi-bagi uang sebagai hasil kegiatan usaha, setidaknya buat mereka.

Bila semua perusahaan menerapkannya sebagai wujud dari tanggungjawab mereka, anak-anak seperti Hendri bakal sangat terbantu. Semoga mereka tak dianggap semata sebagai obyek untuk memenuhi kewajiban. Apalagi sebagai penghasil insentif pajak, konsekuensi sepadan dari ‘beban’ melakoni CSR. Saat itu, rasanya susah bagiku untuk menolak penerapan kewajiban CSR bagi tiap perusahaan. Bank swasta itu, yang notabene merupakan penyedia jasa dan bukannya sumber daya alam, tahun ini mengalokasikan lebih dari Rp 3 miliar untuk kebutuhan 43 penerima beasiswa. Hendri, apabila tak dapat beasiswa, bagaimanakah kelanjutan ceritamu? “Saya sudah melamar jadi petugas cleaning service dan pelayan di sebuah rumah makan. Saya mau mengumpulkan uang buat kuliah. Namun sehari sebelum mulai kerja, saya mendapat telepon dari Jakarta,” kenangnya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jejak . . .

Berawal dari sebuah impian yang kini menjadi kenyataan untuk mewujudkan impian lainnya. Ketika SMP kuimpikan masuk Sekolah Menengah Atas Unggulan di daerahku, dan alhamdulillah saya pun diterima. Dan ketika duduk di bangku SMA kuimpikan mendapatkan beasiswa kuliah di Jawa seperti halnya yang diperoleh beberapa kakak kelas saya yang mendapat kesempatan kuliah di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Mendapatkan pengalaman, pengetahuan, dan jaringan informasi yang lebih luas. Hidup mandiri di kota orang yang penuh tantangan dan bisa berprestasi disana. Dan kini terwujud, saya diterima Institut Pertanian Bogor jalur SNMPTN dengan beasiswa dari sebuah Perusahaan Swasta di Sul-Sel. Awalnya kukira hal tersebut hanya sebuah mimpi di siang bolong, banyak orang yang berkata padaku bahwa jangan bermimpi terlalu tinggi karena kalau tak dapat kuraih akan terasa sakit. Namun perkataan itu yang menjadi salah satu motivasiku untuk bisa mewujudkan impianku kuliah di Jawa.

Bukan jalan yang mudah, hingga akhirnya sampai ke IPB. Awalnya, keluarga tidak mengizinkan untuk kuliah di luar sulawesi, beliau lebih menyetujui saya mengambil PMDK di salah satu Universitas di Sulawesi Selatan. Mengingat saya seorang wanita, tinggal di kota orang tanpa ada keluarga di sana, beliau mengkhawatirkan bagaimana jika saya sakit, atau kekurangan sesuatu siapa yang akan membantu. Saya pun berusaha memberikan pengertian kepada keluarga. Saya meminta satu kesempatan untuk mengikuti Bimbingan Belajar  di Makassar (4 jam dari daerah saya) dan mengikuti tes seleksi Perguruan Tinggi.

Dengan berbekal sisa tabungan yang saya miliki, saya berangkat ke makassar sendiri dan tinggal di asrama selama sebulan dan mengikuti berbagai tes seleksi. Alhamdulillah, saya Lulus SNMPTN di IPB dan Sekolah Ikatan Dinas . Saya pun memberi tahu keluarga tentang berita baik ini. Dan keluarga saya lebih mendukung untuk masuk Sekolah Ikatan Dinas. Butuh waktu yang lama hingga akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di IPB. Saya teringat dengan impian awal saya, saya tidak ingin membebani orang tua saya dalam hal biaya. Karena adik saya masih sekolah dan tentunya membutuhkan biaya yang besar.

Tanggal 8 Agustus saya berangkat ke Bogor bersama teman-teman tanpa didampingi orang tua karena mereka sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi kuyakin, doa mereka selalu menyertai setiap langkahku. Dan inilah awal langkahku untuk melukis masa depan ku. Akan kubuktikan bahwa IPB adalah pilihan terbaik.

Posted in Uncategorized | Leave a comment